Zamsjourney

Wisata Suramadu bersama HOS Tjokroaminoto

Wisata Jembatan Suramadu


HALO netizen! Suasana pelabuhan timur sepi seperti biasanya, hanya terlihat beberapa orang dengan aktivitasnya masing-masing. Ada pemilik warung yang menjaga warungnya, ada pekerja yang sedang mengelas dek kapal Ferry, ada yang sibuk bongkar pasang mesin perahu dan ada yang hanya duduk santai bersama kawannya. 

Ban-ban raksasa menggunung di beberapa sisi--sudah bertahun-tahun ada di sana. Pelabuhan yang menyedihkan. Pelabuhan yang tidak dihiraukan lagi keberadaannya. Sudah bertahun-bertahun masa kejayaan pelabuhan timur ini sirna. Sekarang semua aktivitas pelabuhan hanya difokuskan di pelabuhan Kamal sebelah barat. Dan pelabuhan barat pun nasibnya tidak jauh berbeda. Mulai sekarat. 

Di pelabuhan yang lebih terkenal dengan sebutan Peltim (pelabuhan timur) ini, kami berkumpul untuk mengarungi Selat Madura. Sejak pukul 15.00 WIB, aku sudah berada di Peltim bersama 9 orang lainnya. Sesekali mendung menyapa, tetapi matahari lebih sering menyoroti kami dengan sinar teriknya. Panas bukan main. Mau tidak mau, kami harus menunggu 7 orang lainnya yang belum datang. Menunggu terlalu lama itu memang tidak mengasyikkan. Obrolan yang tak berujung menjadi camilan yang renyah bagi kami. Serenyah keripik singkong khas Madura.

Setengah lima lewat sepuluh menit, semua anggota rombongan lengkap berkumpul. Kami langsung menaiki sebuah perahu. Perahu? oh ternyata bukan, yang aku naiki saat ini merupakan sebuah kapal. Hanya saja dari kejauhan kapal kecil ini bentuknya menyerupai perahu. Berdasarkan referensi, desain kapal ini memang merupakan perpaduan antara desain perahu Bugis dan Madura. Kapal ini bernama "HOS TJOKROAMINOTO", dirancang oleh profesor dan mahasiswa ITS. 
Dari segi konstruksi, kapal seharga 1,5 miliar ini mempunyai panjang 17 meter, lebar 4 meter dan berat 15 ton. Kapal ini mempunyai 2 layar, 3 kabin utama, dapur, toilet dan ruang juru mudi. Semua dekorasi kapal menggunakan kayu jati dan paywood. (sumber: http://old.its.ac.id/berita.php?nomer=7841)
Tali penambat kapal dilepaskan satu persatu. Dan kapal mulai bergerak perlahan seperti pengantin menuju pelaminan, hingga akhirnya seperti orang berlari dengan kecepatan sekitar 5 knots. Satu per satu  penumpang kapal mulai memakai pelampung demi alasan keamanan. Ada yang mulai berceloteh tanpa hentinya saking senangnya, ada yang mulai membuat rekaman reportase, ada yang mulai ber selfie, dan ada yang hanya duduk manis di bangku-bangku samping kemudi nakhoda.



Perairan Selat Madura saat itu sangat bersahabat dengan ombaknya yang tenang dan angin yang bertiup lembut. Sangat damai rasanya berada di kapal kecil yang melaju dengan kecepatan stabil ini. Dari kejauhan, jembatan Suramadu mulai tidak sabar menyambut kedatangan kami. Jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Madura seperti pasangan yang terpisahkan. Jembatan yang selama ini sering aku lewati dengan tiket seharga tiga ribu hingga akhirnya kini digratiskan. Kali ini aku mendatanginya dengan cara berbeda--melalui perairan Selat Madura. Semakin dekat dan terus mendekat. Yang awalnya terlihat seperti lidi, hingga terlihat beton-betonnya dengan jelas.





Seperti saudara yang sudah lama tidak bertemu saja. Saat kapal ini mulai berjarak 500 meter dari bentang tengah Suramadu, wajah-wajah semringah mulai terpancar jelas. Sejelas wajah yang disinari lampu 20 watt. Tidak perlu di komando lagi, kami langsung mengeluarkan jurus pamungkas masing-masing. Jurus yang sudah ditahan sedari tadi. Ada yang mengeluarkan jurus mengabadikan kokohnya tiang jembatan Suramadu, ada jurus berpose heboh--kemudian sesekali berteriak menjerit kesenangan, ada yang selfie, dan ada yang berpose bersama. Tidak satupun yang berdiam diri kecuali nakhoda. 

Bukan main fisik jembatan Suramadu ini. Sangat gagah dan kokoh. Kaki-kaki jembatannya sangat berotot dan jenjang. Inilah salah satu mahakarya Indonesia. Saat kami berteriak tepat dibawahnya, suara kami menggema. Jarak antara jembatan dengan air laut ternyata lebih tinggi daripada yang dibayangkan selama ini. Mungkin sepadan dengan tinggi bangunan lantai 5.



Bagi orang awam sepertiku, melihat kaki-kaki jembatan secara langsung sangatlah menakjubkan. Kekagumanku masih berkutat dengan bagaimana bisa mereka mengecor berton-ton beton dengan kokohnya hingga menjulang tinggi di atas lautan layaknya di daratan. Sangat mengagumkan bukan? 

Saat kami tiba di sisi sebelah timur jembatan, semburat senja sudah di lukiskan dengan indah di ujung langit sana. Senja yang terhalang awan mendung. Tidak sempurna tetapi tetap membuat takjub siapapun yang memandangnya. Suramadu dengan latar senja. Ah betapa indahnya... seindah saat kau tersenyum manis kepadaku. Seandainya matahari terbenam itu tidak tertutup awan, mungkin titik lokasi ini menjadi salah satu tempat menyaksikan sunset terbaik yang pernah kami alami. Aku pernah menyaksikan bagaimana matahari terbenam dengan bulatan yang sempurna saat melintasi jalanan Suramadu.




Nakhoda sesekali mengarahkan kapalnya menyerong. Maka tampaklah ciri khas tiang bentang tengah Suramadu. Seperti huruf A dengan kaki-kaki panjangnya. Posisi menyerong ini tidak kami sia-siakan. Ini merupakan spot terbaik. Kami saling bergantian memotret satu sama lain. Sayangnya aku sendiri tidak punya kesempatan untuk di photo saat sendirian. Semuanya sibuk memotret tanpa mengenal henti. Tidak mau menyia-nyiakan, aku pun melakukan selfie saat kapal mulai menjauh dan sebelum hari benar-benar gelap. Baru saat jepretan ketiga, hasilnya lumayan. Aku memang tidak pandai dalam selfie.

Malam benar-benar datang tepat waktu tanpa ingkar janji. Langit pun sudah benar-benar gelap. Lampu-lampu Suramadu mulai menyala walaupun tidak seterang beberapa tahun yang lalu. Beberapa lampu LED warna warni bentang tengahnya padam. Kecantikan jembatan Suramadu yang tersohor dan menjadi ikon Jawa Timur itu mulai sedikit pudar. Pemerintah masih enggan untuk menggantinya. Saat kami mengadu ke BPWS, mereka melontarkan jawaban bahwa itu kewenangan pusat. Saat kami komplain ke Kemenhub, mereka jawab itu kewenangan Pemda. Mengadu ke Kemenkeu dan Presiden via twitter, tidak ada jawaban. Saling lempar tak berujung! 




Lampu gedung-gedung bertingkat di Surabaya, Gresik dan rumah-rumah di Bangkalan sudah menyala secara kompak tanpa dikomando. Kapal yang kami naiki pun segera menyalakan lampu sorotnya. Sedangkan perairan Selat Madura mulai berombak lebih kuat. Tidak terlalu kencang tetapi cukup membuat laju kapal ini lebih lambat. Perjalanan pulang terasa lebih lama daripada saat berangkat tadi. Hingga kami pun merapat kembali di dermaga Peltim dan pulang ke rumah masing-masing.

Kapal HOS Tjokroaminoto ini memang diperuntukan sebagai kapal eduwisata. Khusus paket wisata Suramadu ini waktu berlayarnya sekitar 4 jam. Paket ini meliputi edukasi Armatim, jelajah Selat Madura sambil menikmati sunrise/sunset di perairan Suramadu, dokumentasi kegiatan dan guide lokal. Selama bulan April 2016, kalian bisa menikmati fasilitas tersebut dengan harga promo sebesar Rp. 65.000/orang dengan jumlah penumpang minimal 15 orang. Bisa group booking atau  perseorangan/open trip--digabungkan dengan rombongan lainnya sampai syarat kuota minimal terpenuhi. 

Untuk saat ini layanan tersebut bisa dinikmati dengan melakukan pemesanan terlebih dulu ke beberapa biro tour & travel di Madura atau bisa booking melalui fanspage HALOnetizen. Besar harapan, kapal ini bisa menjadi jujukan wisata baru dan dapat menjadi pendongkrak sektor wisata andalan di Bangkalan. Ayo netizen dan traveller, segera coba dan ajak teman atau keluarga kalian untuk menikmati sensasi berlayar bersama HOS Tjokroaminoto. Dijamin seru dan meninggalkan kesan mendalam bagi mereka!.

About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

15 comments:

  1. Semakin skroll ke bawah, semakin malas, karena: KEREEEN!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih apresiasinya yu :-bd :)

      Hapus
  2. Keren banget jembatannya ya, kira-kira buat kesana gimana mas rutenya kalau dari Sukabumi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. menuju Surabaya dulu, baru kemudian ke pelabuhan Perak menuju Bangkalan via kapal ferry

      Hapus
  3. jadi kepengen, kapan ya teman-teman Plat-M ketempat ini, keren bagts.

    BalasHapus
    Balasan
    1. segera agendakan bersama teman-teman yang lain mas :-bd

      Hapus
  4. Bacanya kok enak ya...Semoga bsa nulis kayak gni
    *sambil baca ulang

    BalasHapus
    Balasan
    1. syukurlah mas jika pembaca merasa nyaman, semoga mas firdaus bisa jauh lebih baik dari tulisanku :)

      Hapus
  5. nice pict, my plan, i will to that place..

    BalasHapus
  6. Sumpah ini keren bangetttttsssss

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih kunjungannya kak dik :)

      Hapus
  7. astagaaa...keren sekali masss!
    duh..aku pengen jugaa >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih ria, semoga kapan-kapan kamu bisa kesini ya :D

      Hapus
  8. Ada yg opentrip gak? Soalnya saya dari luar kota

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba nanti datang pada bulan November mas, pada tanggal 10-17 ada Festival Bahari Kamal, mungkin nanti ada open trip

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.