Semeru

Purnama di Ranukumbolo



Waw bulan purnama! bulatannya sempurna, sangat menawan. Sinar putihnya terang benderang tanpa terhalang awan sedikitpun. Danau Ranukumbolo tiba-tiba bagai diterangi lampu sorot beribu-ribu watt. Kilau sinarnya yang terpantul di atas air yang bergelombang, membuat siapapun terpesona. Malam yang syahdu. Hanya saja, angin gunung tanpa ampun sedang turun menghantam lembah ini. Tidak sampai 5 menit, setelah berdiri di pinggir Danau Ranukumbolo, aku langsung memutuskan kembali ke dalam tenda. Pintu tenda segera aku tutup rapat-rapat. Langsung saja kubenamkan badan yang mulai menggigil  ke dalam sleeping bag

***
Sekitar pukul 07.00 WIB kami pun bergabung bersama rombongan lainnya untuk menuju Ranupane menggunakan transportasi truk. Terbentuklah rombongan baru, yaitu rombongan para pendaki pengguna truk. Rombongan ini berjumlah 13 orang pendaki. Tidak perlu acara formalitas kenalan  satu sama lain. Kami dengan mudah membaur satu sama lain. 

Tidak membutuhkan waktu yang lama, sopir truk langsung membawa kami dari rumah Pak Rus ke klinik terdekat. Sayang sekali aku lupa mencatat nama klinik ini. Klinik terdekat yang buka dan melayani pembuatan Surat Keterangan Sehat se pagi ini. Sesuai arahan pak Rus untuk membuat Surat Keterangan Sehat. Beberapa orang dari rombongan kami, ada yang belum mempunyai Surat Keterangan Sehat. Ada yang sudah memiliki, tetapi tidak berstempel asli alias hasil scanning

Sesampainya di klinik, satu persatu dari kami mengumpulkan KTP ke petugas jaga. Satu persatu dipanggil, kemudian diukur tinggi badan, ditimbang berat badan dan terakhir di ukur tekanan darah kami secara bergantian. Tidak butuh waktu yang lama, selembar kertas Surat Keterangan Sehat sudah bisa diambil dengan biaya sebesar Rp. 10.000,- per orang. Klinik ini sepertinya sudah terbiasa dan menjadi rujukan para pendaki yang belum mempunyai Surat Kesehatan Sehat. 

Perjalanan dilanjutkan kembali, truk berbalik arah. Menyusuri jalanan yang mulai menanjak. Kanan kiri jalan, masih dipenuhi rumah warga yang berbaris rapi. Padat. Entahlah kampung apa ini namanya. Beberapa menit kemudian, truk berhenti tepat di depan sebuah warung. Beberapa orang langsung turun dari truk dan menyerbu warung. Sedangkan aku masih duduk di bak truk. Aku sudah membawa bekal nasi bungkus. 

Tidak lama kemudian mereka kembali naik ke atas truk dengan membawa nasi bungkus. Terlihat cukup banyak porsinya dengan nasi yang masih hangat. "Tahu begini, tadi aku tidak membeli nasi bungkus dari penjual yang menjajakan ke penginapan, nasinya kurang matang dan sudah tidak hangat pula." aku menggerutu dalam hati. Prediksiku salah. Aku pikir, supir truk akan langsung melaju Ranupane tanpa berhenti sejenak ke warung. Ah aku kurang beruntung ...




Perjalanan dilanjutkan, mesin truk semakin menggeram. Jalanan semakin menanjak. Di Kiri kanan jalan, mulai nampak landscape yang cantik menawan. Hamparan bukit yang menghijau. Bukit yang di jadikan lahan pertanian dengan tingkat kemiringan 45 derajat atau mungkin lebih. Ditanami bawang, ada kol, ada sawi dan lain-lainnya. Di tengah-tengah lahan, tampak berdiri sebuah bangunan sederhana--rumah dari anyaman bambu yang aku tahu berfungsi sebagai tempat berteduh sekaligus gudang pupuk dan peralatan bertani. Beberapa pohon pinus tumbuh menjulang tinggi di sisi lainnya. Suasana khas pegunungan benar-benar menyambut kami dengan hangatnya.





Yang paling menakjubkan adalah saat melewati jalur dimana kami bisa melihat langsung: tingginya semburan awan panas Gunung Bromo. Takjub. Keindahan pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan sebelum tiba titik lokasi ini, langsung sirna. Pemandangan kombinasi kontrasnya semburan awan panas Gunung Bromo yang terus mengepul dengan hijaunya lembah di sekitarnya kini sudah di depan mata kami. Gunung Bromo sekecil ini saja, semburannya bisa sedasyat ini. Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya. 

Sayang sekali, di titik lokasi ini truk yang kami tumpangi tidak berhenti. Truk hanya menurunkan kecepatannya saja. Perjalanan terus berlanjut. Jalanan sudah tidak mulus lagi. Kami sempat kewalahan untuk berdiri di bak truk saat truk melintasi beberapa titik jalan yang rusak. Kami pun akhirnya memilih duduk daripada kami jatuh terserembab. Tidak berdiri seperti sebelumnya.

Tidak terasa, kami sudah tiba di kawasan Ranupane. Satu-persatu dari kami menurunkan tas ransel dari atas truk. Ada yang bertugas mengambil tas, ada juga yang menangkapnya dari bawah. Saling tolong menolong. Wajah sumringah terpancar dari anggota rombongan. Dari lokasi parkir kendaraan, tampak danau yang debit airnya hanya sedikit. Hujan deras sepertinya belum terlalu rajin menumpahkan airnya di kawasan ini. Ya danau yang kami lihat dari lokasi parkir kendaraan bernama Ranupane. 

Kami berpisah di lokasi ini. Kembali menjadi 3 kelompok masing-masing. Aku dan 4 orang temanku menunggu anggota rombongan kami lainnya yang belum tiba di Ranupane. Mereka menggunakan moda transportasi mobil pribadi dan ada pula yang menggunakan sepeda motor. Untuk dua moda transportasi ini sangat tidak disarankan. Medan yang terjal dan terus menanjak membuat kendaraan mereka kewalahan. Mereka harus bersusah payah menuju Ranupane dan baru tiba di lokasi sekitar pukul setengah dua belas. 

Setelah berkumpul semua, kami yang berjumlah 16 orang pun segera menuju pos lapor, tetapi petugas jaga, mengarahkan kami untuk segera memasuki sebuah gedung tepat di belakang pos lapor. Di gedung ini sudah banyak para pendaki yang berkumpul. Dinding ruangan ini dihiasai beberapa peta jalur pendakian, peta objek wisata dan ada sebuah white board yang sudah di gambari sebuah gunung besar. Di depan sudah berdiri 2 orang. Mereka merupakan penduduk lokal yang menjadi relawan di pos Ranupane.




Dua relawan ramah ini bergantian memberikan arahan kepada kami. Mana jalur pendakian yang diperbolehkan, mana medan yang tidak boleh di lintasi, mana areal camping ground  serta beberapa tip dan pantangan lainnya.

Setelah memberi arahan, semua ketua rombongan pendaki diinstruksikan untuk mengumpulkan SIMAKSI yang sudah di isi. SIMAKSI berisi data-data  anggota pendakian dan perlengkapan yang di bawa. Satu persatu tas kami diperiksa, sesuai data yang tertera di SIMAKSI. Yang menjadi fokus utama pemeriksaan adalah sleeping bag, matras, logistik dan tenda. Senjata tajam seperti pisau besar, golok tidak diperkenankan dibawa pendakian. Setelah pemeriksaan tuntas, SIMAKSI di setorkan ke pos lapor sekaligus melakukan pembayaran karcis masuk.

Karena beberapa hal, rombongan kami baru bisa mendaki sekitar pukul 12.30 WIB. Pendakian di mulai dengan antusias. Langkah demi langkah di lalui dengan mantap, gembira dan penuh keyakinan. Baru sekitar 700 meter dari pos jaga, drama perjalanan ini dimulai. Kami langsung disuguhi tanjakan yang membuat nafas kami "ngos-ngosan". Beberapa dari kami kewalahan. Berhenti sejenak, mengatur kembali ritme nafas yang sempat tersengal-sengal. 

Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan para pendaki yang "turun gunung". Saling sapa itu sudah pasti. Saling menyemangati pun sering dilontarkan satu sama lain. Itulah cara kami menikmati pendakian ini walaupun sesekali kami sering menanyakan, "Ke Ranukumbolo kurang berapa jam lagi mas?" ujar salah satu dari kami. "Tidak jauh lagi mas, semangat mas! lelahnya nanti pasti terbayar klo sudah sampai disana," jawab pendaki lainnya. Beda orang yang ditanyakan, beda pula jawabannya. Semuanya bersifat prediksi atau bisa jadi mereka sengaja "mendiskon" waktu tempuh sesungguhnya, biar kami semangat dalam melakukan pendakian. 



Beberapa pohon khas hutan tropis dengan mudah kita jumpai sepanjang perjalanan. Pohon tumbang, tanah longsor, dan beberapa lahan yang terbakar juga menjadi suguhan pemandangan saat itu. Tampaknya hutan disini sempat  mengalami kebakaran.  Ah lupakanlah, masih banyak keajaiban fenomena alam yang bisa dinikmati. Suara kicauan burung, indahnya bukit-bukit di kala senja, dan kabut yang tiba-tiba menutupi bukit bagai frezeer raksasa dalam sekejab.



Haus atau lapar saat perjalanan? jangan khawatir seandainya kalian kehabisan bekal. Di empat pos sepanjang rute menuju Ranukumbolo, terdapat penduduk lokal yang menjajakan air mineral, semangka potong, madu sachet dan gorengan. 

Aku sempat berbincang dengan mereka, setiap hari mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 3-4 pagi. Sungguh perjuangan mencari nafkah yang tidak mudah. Oh iya untuk harganya cukup terjangkau, untuk sepotong semangka dihargai dua ribu lima ratus dengan potongan yang cukup besar. Tetapi semakin jauh lokasi mereka menggelar dagangan mereka, semakin tipis irisannya. Apalagi yang berjualan di kaki gunung Semeru, irisannya super tipis, sebanding dengan susahnya medan yang harus mereka tempuh.




Kami baru tiba di Ranukumbolo sekitar 18.15 WIB. Keadaan sudah gelap gulita. Tenaga kami sudah terkuras habis. Kaki mulai terasa pegal. Bahu terasa sakit karena terlalu lama memikul tas ransel dengan bobot sekitar sembilan kilogram. Dingin pun mulai terasa menusuk tulang. Kami segera mendirikan tenda tidak jauh dari turunan bukit. Sudah terlalu capai untuk mencari letak camping ground yang ideal. 

Kami mendirikan tenda disana, mengikuti beberapa pendaki lainnya. Sedikitnya sudah ada sepuluh tenda berdiri saat kami membangun tenda. "Agak aneh sih, bukannya rombongan yang berangkat tadi banyak? masak cuma segini. Padahal sebelum turunan bukit, di kejauhan sana terlihat beberapa tenda yang bersinar." gumamku dalam hati.

Tenda kami sudah berdiri kokoh. Kami pun segera menyalakan kompor gas mini. Menanak nasi sekaligus merebus air menggunakan panci susun.  Air pun sudah mendidih. Sambil menunggu nasi sudah matang, kami membuat seduhan sereal agar perut kami segera terisi makanan. Tak lama kemudian, nasi sudah matang, tanpa perlu dikomando, kami langsung melahap nasi. Tempe orek dan udang goreng menjadi lauk makan malam pertama kami. Sungguh terasa nikmat!

Makan malam selesai. Angin dingin semakin kencang berhembus. Beberapa kali menghempas tenda kami tanpa ampun. Tidak ada satu pohon pun yang menghalangi laju angin menerpa tenda kami. Sesekali tenang. Aku putuskan untuk keluar dari tenda, mencoba menikmati suasana malam Ranukumbolo.

Waw bulan purnama! bulatannya sempurna, sangat menawan. Sinar putihnya terang benderang tanpa terhalang awan sedikitpun. Danau Ranukumbolo tiba-tiba bagai diterangi lampu sorot beribu-ribu watt. Kilau sinarnya yang terpantul di atas air yang bergelombang, membuat siapapun terpesona. Malam yang syahdu. Hanya saja, angin gunung tanpa ampun sedang turun menghantam lembah ini. Tidak sampai 5 menit, setelah berdiri di pinggir Danau Ranukumbolo, aku langsung memutuskan kembali ke dalam tenda. Pintu tenda segera aku tutup rapat-rapat. Langsung saja kubenamkan badan yang mulai menggigil  ke dalam sleeping bag

Aku sudah tidak peduli lagi, secantik apapun engkau menyinari Ranukumbolo, sungguh aku tidak peduli! tubuhku menggigil, rongga mulut atas dan bawah saling beradu. Dan aku pun terlelap dengan harapan Ranukumbolo tersenyum manis kepada ku esok hari hingga subuh menjelang.

About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

6 comments:

  1. hahaa...akhirnya ya sampai juga tulisan ranukumbolonya :D
    Kalau baca ini aku jadi serasa nostalgia, mengingat-ingat perjalananku waktu itu. belum sempat ditulis di blog :)))

    eh btw, jadi pas malam itu nggak sempat ambil foto bintang dan bulan purnamanya? yaah... sayang sekali :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak sempat :D, gak bawa tripod, seandainya bawapun mungkin dibawa angin hehe ..kamera ku hanya kamera mini dengan lensa kit

      Hapus
  2. Ya Rabb, bagus banget pemandangannya
    smoga diberi kesempatan datang dan menyaksikan langsung
    amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ..ayo segera masukkan list tujuan wisatamu mas :)

      Hapus
  3. bang boleh naik mobil sampe ranu pane ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang boleh. Pastikan mobilnya dan drivernya dalam keadaan prima ya

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.