Fotografi

Pesona Pantai Ropet dan Batu Cangge di Pulau Gili Iyang

Matahari semakin beranjak, hampir tepat di atas kepala saat itu. Pesona keindahan Goa Mahakarya membuat kami tambah semangat untuk mengeksplor destinasi selanjutnya. Dorkas mulai melaju membawa kami menyusuri jalan utama. Sampai akhirnya mengambil ancang-ancang untuk berbelok kiri. Lebar jalanan kali ini hanya seukuran panjang sisi roda kanan ke sisi roda kiri dorkas. Pohon-pohon siwalan  tumbuh di ladang yang berada di kanan kiri jalan.

Dari kejauhan sudah tampak air laut yang sudah memanggil-manggil kami. Jarak dari jalan utama menuju pantai, aku prediksi sekitar 500 meter. Panasnya matahari tidak menghalangi kami untuk terus menuju bibir tebing. 


Pantai Ropet Gili Iyang Sumenep

Pantai Ropet namanya. Pantai ini tidak memiliki tepian yang berpasir khas bibir pantai pada umumnya. Deretan pohon siwalan menambah keindahan view pantai Ropet ini. Dari tebing yang ada di sepanjang pantai, kita bisa melihat jernihnya air laut. Ikan warna-warni dan terumbu karang juga dengan mudah bisa dilihat dengan mata telanjang.



Pengunjung sebenarnya bisa turun menuju bibir pantai tetapi harus ekstra hati-hati karena bebatuannya cukup licin. Salah satu peserta yang merupakan agent travel bahkan tidak sabar untuk segera ber snorkeling. Dengan pelampung dan alat snorkel yang sudah dibawa, dia langsung menceburkan diri ke dalam air laut. Teman-teman lainnya hanya bisa menelan ludah, karena waktu yang singkat, tidak memungkinkan bagi kami untuk snorkeling juga. 

Panas terik matahari semakin menyengat. Kami pun memutuskan tidak berlama-lama di pantai Ropet. Tanpa dikomando kami sudah berada di atas dorkas kembali. 20 menit di pantai Ropet, kami rasa sudah cukup untuk ber photo ria.

Dorkas kembali menyusuri jalan. Membawa kami semakin menjauh dari pantai Ropet hingga berhenti di salah satu rumah warga. "Kita sudah mau makan siang ya?". Seloroh salah satu anggota rombongan. Pertanyaan itu langsung terjawab "tidak". Kami diarahkan untuk menyusuri jalan setapak diantara tegalan yang kering kerontang. Panas terik matahari, sedikitpun  tidak mengurangi semangat kami. 

Di hadapan kami sudah ada tangga yang terbuat dari bambu. Bambu itu diikat sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk menuruni bukit. Panjang tangga sekitar 4-5 meter. Satu persatu kami menuruni tangga. Beberapa orang mengalami sedikit kesulitan untuk menuruni anak tangga demi anak tangga.

Batu Cangge. Ya itulah nama tempat yang kami kunjungi saat ini. Tidak jauh. Setelah menuruni tangga bambu, titik lokasi Batu Cangge sudah terlihat. Tempat yang eksotik! tebing yang cukup terjal di pinggir laut. Viewnya sangat memanjakan mata. Tesktur bebatuan tebingnya juga cantik dan yang paling unik adalah sebuah batu besar yang seperti cagak, menopang langit-langit tebing yang terbentuk secara alami bagai kanopi. 

Tempat yang sangat tepat sekali untuk berteduh di siang hari bolong. Tempat yang sangat cocok untuk melepas rasa penat kami. Udara segarnya sangat memanjakan pengunjung. Ingin rasanya berlama-lama di tempat ini. Sesekali perahu nelayan terlihat melintas, terlihat lebih kecil daripada aslinya. Moment singkat yang cukup menarik perhatian. Dengan santainya perahu membelah air laut yang tenang. Setenang perasaan ini saat itu. Mungkin jika pujangga ternama menulis syair di tempat ini, akan terlahir puluhan karya yang hebat dalam sehari.

Dibutuhkan kehati-hatian untuk meniti bibir tebing untuk menuju titik batu cangge yang menjadi ikon tempat ini. Tebing ini memang cukup tinggi. Aku sedikit bergidik saat berdiri di pinggir tebing sambil melihat ke arah bawah. Akhirnya aku memutuskan duduk santai sambil menikmati lautan yang tenang sambil ditemani semilir angin sepoi-sepoi. Di beberapa titik aku melihat tumbuhan kaktus yang tumbuh diatas batu karang.


Setelah 30 menit di tempat ini, kami diberi aba-aba untuk segera kembali ke dorkas. Kami terus memutari jalanan pulau Gili IyangRencana awal sampai sore hari menjelang senja di pulau tidak dapat direalisasikan karena terjadi sedikit miskomunikasi. Tuntas sudah menyusuri keliling pulau dari ujung ke ujung. Tak terasa kami sudah tiba di titik awal kedatangan di pulau ini. 

Perahu yang membawa kami ke pulau ini pun sudah datang dan menurunkan warga lokal  beserta rumput kering yang mereka bawa dari pulau sebelah. Kami pun bergegas naik setelah perahu selesai melakukan bongkar muat. Selamat jalan pulau Gili Iyang ..!! suatu saat nanti akan kembali kesini lagi, membawa alat pengukur kadar oksigen dan mengeksplor lebih jauh lagi potensi pulau ini :)

About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

10 comments:

  1. Wah,, jadi pingin pergi kesana sama teman-teman nih!. hehe

    Seru pastinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mas segera ajak teman-temannya ke pulau dengan kadar Oksigen kedua di dunia.

      Hapus
  2. Oh, jadi naik tangga begitu. Baru tahu. Glek, langsung pengen jalan-jalan baca tulisanmu, mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih tepatnya harus menuruni tangga :D tempat ini masih jauh dari campur tangan pemerintah. Jadi fasilitas masih alakadarnya

      Hapus
  3. Jadi keinget keseruan pada saat menuruni tuh tangga dan kesejukan batu canggenya, pengen kesana lagi...

    BalasHapus
  4. Hahaha ada fotoku ternyata,,, tapi aslinya tadi aku gak merasa kalau itu aku, eh pas baca tulisan travel agen, ternyata betul itu aku,, hahhah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ...memang memaksa pengunjung untuk membacanya mas :D

      Hapus
  5. Ayoooo balik lagi kesana... Kurang puas rasanya kemarin disana. Yg bilin kangen suasana naik dorkas

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayooo er, iya kemarin itu terasa terlalu singkat :D

      Hapus
  6. Wah keren ya..next destinasi boleh juga nih...

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.