Fotografi

Gili Iyang, Bukan Sekadar Pulau dengan Kadar Oksigen Tertinggi


Batu Canggha Gili Iyang Sumenep


Ada suatu keinginan terpendam dari dulu ketika salah satu wartawan Radar Madura ditugaskan untuk melakukan ekspedisi kepulauan di Madura. Tugas yang asyik dan seru tuh sepertinya, kapan ya aku bisa menginjakkan kaki di kepulauan pulau Madura?? aku bergumam dalam hati. 

Setelah bertahun-tahun berlalu, sampai akhirnya ada kabar dari salah satu anggota Plat-M bahwa Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep mengundang blogger untuk melakukan ekspedisi kepulauan.

"Serius? ayo langsung berangkat" ujarku dengan penuh semangat saat teman-teman Plat-M mengabari rencana tersebut. Usut punya usut ternyata kali ini kami hanya akan difasilitasi akomodasi menuju pulau Gili Iyang saja. Sudah aku duga hehe.... karena akomodasi untuk eksplorasi kepulauan Madura, bisa menghabiskan dana puluhan juta bahkan ratusan juta untuk rombongan. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat kami untuk menerima tawaran untuk eksplorasi pulau Gili Iyang Sumenep. 

Tepatnya tanggal 30 November 2015 pukul 06.00 WIB, kami blogger Madura, blogger Surabaya, blogger Bojonegoro dan blogger Sidoarjo sudah berkumpul di depan kantor Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Sumenep. Jumlah keseluruhan blogger yang bergabung dalam trip ini kurang lebih berjumlah 27 orang. 

Tidak ingin membuang-buang waktu, setelah absensi satu persatu, mobil yang mengangkut kami pun langsung meluncur menuju pelabuhan Dungkek. Dibutuhkan waktu  sekitar 1 jam untuk menuju pelabuhan Dungkek. 

Sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau Gili Iyang, kami menyempatkan diri untuk sarapan pagi dengan menyantap bekal nasi kotak di pinggir pantai. Nasi kotak ini sudah disiapkan dan dibawa oleh pegawai Disbudparpora dari Sumenep. 


Perahu yang mirip dengan perahu yang kami tumpangi


Tak lama kemudian, ada seorang nelayan yang berteriak-teriak memanggil kami "ayok dulih ongge", dalam bahasa Indonesia yang berarti "ayo segera naik ke (perahu)". Kami pun segera bergegas naik ke atas perahu dan tidak lama kemudian langsung berlayar di perairan laut yang tenang. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit saja untuk menyeberangi lautan yang memisahkan antara daratan dungkek dengan pulau Gili Iyang. 



Kami pun tiba di pesisir Pulau Gili Iyang tanpa ada drama peserta yang mabuk laut. Air laut saat itu surut. Perahu tidak bisa bersandar tepat di bibir pantai. Satu persatu rombongan terpaksa mulai turun dari perahu sambil menyingsingkan celana setinggi mungkin. Beberapa diantara kami langsung turun dan menceburkan kaki ke dalam  air laut dengan kedalaman 60 cm atau setinggi paha orang dewasa. Mau tidak mau, celana kami pun basah sedangkan teman-teman perempuan mulai kebingungan mau turun atau tidak. Sampai akhirnya, ada penduduk asli Gili Iyang menghampiri perahu kami dengan membawa sampan.

Ojek Sampan Gili Iyang



"Ayo naik perahu saja biar tidak basah, cuma seribu saja!" ujar orang itu menawarkan jasanya. Tawaran ini langsung disambut baik oleh teman-teman yang masih diatas perahu. Aku dan beberapa teman lainnya sudah terlanjur basah dan terus memilih berjalan menuju pinggir pantai. Bebatuan yang ditumbuhi lumut membuat kami harus ekstra hati-hati.

Surutnya air laut membuat terumbu karang yang berada di pinggir pantai Gili Iyang terlihat dengan jelas. Bisa bertahan hidup berapa lama terumbu karang tersebut tanpa air laut ya? 

***



Tidak lama kemudian kendaraan yang akan membawa kami berkeliling pulau Gili Iyang sudah datang. Bukan mobil ataupun pick-up melainkan dorkas. Dorkas merupakan kendaraan  bermotor yang memiliki tiga roda dengan gerobak di bagian belakangnya. Ini pengalaman pertama bagi kami. Kami pun sangat antusias untuk segera memulai ekspedisi ini. Dorkas pun langsung menyusuri jalan paving yang tidak terlalu lebar. Jalan paving yang terhampar mengelilingi pulau Gili Iyang ini merupakan program pavingisasi dari Badan Pengembangan Wilayah Surabaya Madura (BPWS).





Destinasi pertama kali yang akan kami kunjungi  adalah Batu Sponge. Sebuah bukit yang katanya merupakan salah satu  lokasi dengan kadar oksigen tertinggi. Sayangnya kami tidak bisa membuktikan kebenaran tingginya tingkat kadar oksigennya.  Benarkah ini lokasinya?,  sedangkan pegawai Disbudparpora yang mengantar kami tidak membawa alat pengukur kadar oksigen.  Selain itu di bukit ini kami tidak menemukan plang nama lokasi sama sekali ataupun prasasti yang berisi informasi kadar oksigen. Padahal menurut beberapa sumber dua titik lokasi di pulau ini memiliki kadar oksigen tertinggi nomer dua di dunia. Salah satunya berdasarkan penelitian yang di lakukan oleh LAPAN pada tahun 2006.




Secara singkat, aku hanya bisa mendeskripsikan tempat ini dengan ciri: bukit yang memiliki batuan berongga besar, adanya beberapa tandon air yang cukup besar diatas bukit  dan terdapat spot dengan view pantai yang cukup indah.

Perjalanan di lanjutkan ke destinasi wisata berikutnya yaitu Goa Mahakarya. Sekilas goa ini sangat menipu. Lubang pintunya sangat kecil dan pagarnya terbuat dari bambu, tidak nampak sebagai destinasi yang layak dikunjungi. Kami harus merunduk dengan hati-hati untuk masuk ke dalam goa. Seperti yang aku bilang tadi, goa ini menipu karena ternyata bagian dalam goa sangat luas dan cantik. 



Sama halnya dengan goa-goa populer lainnya, Goa Mahakarya ini dihiasi oleh batuan stalaktit dan stalakmit yang berkilauan indah. Di beberapa titik, terdapat lubang di langit-langit goa yang menambah daya tarik sendiri saat sinar matahari menyusup masuk ke dalam goa.


Goa ini masih jauh dari campur tangan manusia, hanya terlihat  beberapa lampu LED yang sangat kecil yang di tempel di langit-langit goa. Berdasarkan penuturan warga lampu-lampu mungil ini merupakan buah karya mahasiswa ITS Surabaya. Listrik lampu tersebut dipasok dengan tenaga listrik dari solar cell. Lampu tersebut bukan bertujuan untuk menerangi goa, melainkan sebagai petunjuk jalur goa yang bisa ditempuh oleh pengunjung. Untuk masuk ke dalam goa ini, pengunjung sangat disarankan membawa senter bukan hanya bermodalkan  sinar lampu flash dari smartphone. 

Batu dalam goa yang berkilauan.


Neng hayati lagi ngapain? berpose atau lagi galau neng?


Masih ada 2 destinasi lainnya yang sudah aku kunjungi yaitu destinasi wisata Pantai Ropet dan Batu Cangge.  

About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

10 comments:

  1. Ini perjalanan yang sangat berkesan.. Thanks potoku ada yang nyempil disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. biar terkenal dan diajak syuting FTV er :D

      Hapus
  2. Perjalanan yg mengesankan dan saat itulah baru pertama kali ke gili iyang menemukan tempat yang indah yg penuh dengan kadar oksigen

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pengen nginep disana walaupun sehari-dua hari. Smoga ada undangan lagi :D

      Hapus
  3. mantap ini, jdi pengen ke Gili Iyang

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mas ajak teman-teman lainnya juga

      Hapus
  4. Satu hal yang tidak akan pernah terlupakan, yaitu ketika menaiki sampan menuju pulau itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo naik perahunya, lebih seru ke Gili Labak. Ombaknya lebih menantang :D

      Hapus
  5. karena penyesalan selalu hadir belakangan, kl duluan jadi pendaftaran ya.. , saat wisata ini sdh akan ikut tp trbentur dgn jadwal anak2 - krn startnya kumpul di Bungur pukul 10 malam, berharap suatu saat nanti bisa menjadi saksi.. dan bukan hanya sekedar asa.. #eeaaa :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiinnn, ayo ajak keluarga kesini mbak. Jika ada waktu luang, aku siap jadi guidenya hehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.