Jawa Timur

Catatan Perjalanan Menuju Tumpang, Pencarian Rumah Pak Rus

Rumah Pak Rus Tumpang Malang
Tampak Depan Rumah Pak Rus Tumpang Malang

Ajakan untuk mendaki gunung Semeru yang datang padaku pada awal bulan Desember lalu, sungguh sangat menggoda. "Aku harus menolaknya, aku tidak boleh ikut." ujarku dalam hati berusaha membentengi diri. Setiap ada ajakan trip, yang pertama aku lakukan adalah menakar pemasukan bulan lalu. Maklum saat ini, aku berstatus jobless--jangan dipikir artinya jomblo ngenes ya haha ...

Dengan pertimbangan "kapan lagi ada ajakan ke Mahameru? padahal mencari teman perjalanan untuk mendaki, tidaklah semudah melakukan trip ke pantai", akhirnya aku memutuskan bergabung dalam trip KRM Goes To Ranukumbolo. Walaupun nama tripnya Goes to Ranukumbolo, mayoritas dari kami semua sepakat akan mendaki sampai ke puncak Mahameru.

***

Perjalanan kami dimulai dari Stasiun Gubeng Lama dengan niatan menggunakan Kereta Penataran Dhoho jurusan Stasiun Malang pukul 17.50 WIB. Sayang sekali, kuota kereta Penataran sudah ludes terjual. Kami pun beralih booking kereta api Tumapel pukul 20.00 WIB (kereta ini hanya beda nama saja. Sama-sama kereta Penataran Dhoho tetapi  dengan rute yang lebih pendek, hanya sampai di stasiun Malang saja). Perjuangan kami di stasiun belum berakhir, kereta Tumapel yang kami tumpangi mengalami gangguan dan baru tiba di stasiun pukul 20.50 WIB dan berangkat pukul 21.00 WIB.

Asyiknya tarif kereta Tumapel ini sangat terjangkau, cuma Rp. 10.000,- dengan fasilitas kereta ber AC,ada colokan listrik, jumlah penumpang sesuai jumlah kursi. Selain itu naik kereta menuju Malang memiliki kelebihan bebas dari kemacetan jalan raya. 

Ditengah perjalanan, kami memutuskan turun di stasiun Blimbing. Saat itu kami bertemu dengan belasan pendaki lainnya yang akan turun di stasiun Blimbing (1 stasiun sebelum stasiun Malang Kota Baru). Oh iya kami berlima ( Ricky, Rijal, Taufik, Fadil dan aku sendiri) memang buta arah, inilah yang membuat kami "mengekor" pendaki lainnya turun di stasiun Blimbing dengan harapan kami bisa sharing biaya angkot menuju Tumpang.

Sayangnya, rombongan mereka sudah berjumlah 18 orang dan sudah ada dua angkot yang menunggu mereka di stasiun. Tidak ada pilihan lain, kami berlima memesan satu angkot terpisah dari rombongan, melalui perantara salah satu supir angkot di stasiun. Selang 15 menit kemudian teman supir tersebut datang menjemput dan membawa kami menuju Tumpang. 

Tarif normal angkot menuju Tumpang jika kita tidak menyewanya cuma Rp. 10.000,- per orang. Namun kami dikenakan biaya sewa angkot sebesar Rp. 120.000,-. Kami memaklumi hal itu karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.40 WIB, dan dengan posisi seperti itu, kami tidak mempunyai daya tawar. 

Kami pun khawatir tidak ada supir angkot yang mau mengantarkan kami jika masih tawar menawar "masih ada angkot aja sudah syukur hehe ..". Sekedar informasi, angkot menuju tumpang dari stasiun kota, bisa disewa seharga 80rb-100rb tergantung kelihaian kita bernegoisasi. Bahkan di malam yang sama,  salah satu kawan kami yang merupakan pendaki dari Malaysia dikenakan biaya sewa 250rb dari stasiun Malang Kota.  

"Mau turun dimana mas? " tanya sopir angkot kepada kami

"Kami akan menginap di rumah pak Rus pak", jawabku dengan yakin, sesuai informasi yang aku dapatkan dari teman yang pernah mendaki. Padahal jujur, aku pun  tidak tahu dimana rumah pak Rus itu, ya aku hanya bermodal petunjuk dari temanku "semua supir angkot menuju Tumpang, pasti mengenal pak Rus" ujarnya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, kami diturunkan di depan gang pasar Tumpang (bukan di depan rumah pak Rus) dan hanya diberi petunjuk "itu mas rumah pak Rus, yang ada mobil putih" ujar supir angkot sambil menunjuk rumah pak Rus sebelum dia tancap gas.



"Ehm ..hahaha .. backpacker beneran nih, bisa-bisa terlantar dan tidur di emperan pasar jika tidak dibukakan pintu" ujarku dalam hati. Waktu itu  sudah menunjukkan pukul 00.40 WIB. Benar saja rumah yang kami tuju sepi, dan tertutup rapat, padahal kami pun tidak yakin itu benar  rumah pak Rus hahahaha .... Mau ketok pintu pun tidak berani "bro ini sudah larut malam, mana sopan santunmu mengetuk pintu orang yang kau tidak kenal sama sekali??"



Singkat cerita, kami melihat ada pergerakan manusia dari dalam rumah. Akhirnya aku ketahui bahwa  dia pendaki yang baru turun gunung dan menumpang istirahat 1 malam sebelum balik ke kota masing-masing. Kami pun minta ijin masuk, tetapi aku amati semua sudut rumah pak Rus ini sudah penuh dengan rombongan yang sudah tertidur dengan lelap. Anehnya lagi, kami masuk ke rumah orang--mau numpang tidur tetapi belum minta izin ke tuan rumahnya??? hahaaha .. memang aneh tetapi namanya aja darurat, suhu dingin Tumpang memaksa kami bertingkah aneh seperti ini hehehe ...



Rombongan pendaki terus berdatangan kerumah ini. Sekitar pukul 02.00 WIB, orang sepuh keluar dari kamarnya, orang yang akhirnya aku ketahui bernama pak Rus itu mungkin terbangun dari tidurnya setelah mendengar sedikit kegaduhan dirumahnya. Setelah mengecek seluruh sudut rumah, akhirnya beliau memutuskan mengantar belasan pendaki yang baru datang menuju sebuah bangunan posyandu yang letaknya sekitar 30 meter dari rumahnya karena rumahnya sudah tidak muat lagi menampung para pendaki.



Mata ini baru bisa terpejam sekitar pukul 02.15 WIB dan aku terbangun sekitar pukul 04.30 WIB. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Sudah 30 menit lebih, satu persatu pendaki keluar masuk kamar mandi tetapi tidak kunjung usai. Ada yang mandi bahkan sepertinya ada yang lagi  buang hajat--hening dan lama mendekam di dalam kamar mandi. 1 kamar mandi yang tersedia di rumah ini memang tidak sebanding dengan jumlah orang yang menginap.



Aku pun akhirnya memilih keluar rumah pak Rus mencari musholla atau masjid. Alhamdulillah ... disebelah timur rumah pak Rus ada masjid. Belum sempat masuk masjid, aku disapa penduduk sekitar.

"Mas, kalau mau mandi, terus jalan kesana, disana ada kamar mandi umum. Dilarang mandi di masjid" ujar beliau. 
"Tidak pak, cuma mau kencing, wudhu dan shalat subuh saja. boleh kan pak?" balasku. 
"Oh iya silahkan mas" balasnya kembali. 
Benar saja di pintu kamar mandi terdapat tempelan DILARANG MANDI. Mungkin dari seringnya para pendaki yang berusaha mandi di masjid sehingga sapaan pertama seperti itu ya? ujarku dalam hati.



Setelah shalat subuh, kami bertiga berjalan mengitari pasar Tumpang sambil mencari air mineral botol dan roti di lapak-lapak yang ada di pasar Tumpang untuk bekal pendakian.


Sesampainya di rumah pak Rus kembali, beliau menanyakan perlengkapan surat pendakian kami. 

"Mas sudah isi SIMAKSI bermaterai dan sudah punya surat keterangan dokter?" tanya beliau. "Kalau belum, ini segera isi kemudian tanda tangani dan fotocopy disebelah rumah", ujar lagi. 
"Rombongan sudah di koordinir ketua rombongan kami pak" ujarku. 
"Pastikan surat keterangan dokternya asli, jangan sampai setelah sampai diatas (Ranupane) kalian disuruh kembali ngurus surat keterangan sehat", beliau mencoba menasehati kami. "Jika belum biar nanti diantar ke klinik, biayanya cuma Rp. 10.000,-".
  
Sekitar pukul 07.00 kami pun bergabung bersama rombongan lainnya untuk menuju Ranupane dengan menggunakan Truck. Terbentuklah rombongan baru, yaitu rombongan pendaki pengguna truk :D berjumlah 13 orang pendaki. Bersambung ...


Berphoto sesaat setelah tiba di Ranupane bersama supir Truk  (dokumentasi Ricky YF)



Informasi Tambahan:

- Rumah pak Rus persis dibelakang pasar Tumpang. Dari jalan raya hanya perlu berjalan kaki sekitar 20 meter menuju rumah pak Rus. 

- Kalian bisa membeli logistik/bekal pendakian (air mineral botol, roti dll) di Tumpang. Ada minimarket, ada pasar tradisional sehingga kalian tidak perlu berat-berat membawa bekal khususnya yang dari luar kota. 

- Rumah pak Rus bisa menampung sekitar 30 orang pendaki, posyandu juga sekitar 30 orang. 

- Siapakah pak Rus itu? pak Rus adalah salah satu warga yang melayani antar jemput ke Ranupane dengan armada truck dan jeep. Beliau menyediakan penginapan secara cuma-cuma. 

- SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi)

About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

9 comments:

  1. duh...aku menunggu lanjutan tulisanmu kak. Ayo segera dilanjut! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapp, ditunggu aja ya ri :D jadi termotivasi untuk segera menuntaskan nih

      Hapus
  2. Balasan
    1. mumpung ada kesempatan untuk mencicipi dot ID ko, jangan di sia-siakan :D

      Hapus
  3. Keren tulisannya. Renyah dan mengalir. :)

    Nunggu tulisan selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih apresiasinya mas, salam kenal ya

      Hapus
  4. Bang, kalo sampe rumah pak rus jam 9nan masih bisa ke ranupane naik truk gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo disewa mungkin mau mas, tapi percuma mas jam segitu loket ranupane sudah tutup

      Hapus
  5. Minta kontak pa rus bisa ga mas..??

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.