Fotografi

KL Sentral, Gedung Pusat Transportasi Terintegrasi

Loket Taxi dan Bus di Bandara KLIA2

Ok selanjutnya langsung menuju loket bus untuk membeli tiket bus menuju Kuala Lumpur Sentral (KL Sentral), dibutuhkan perjalanan sekitar 45 menit menuju tempat ini dari bandara. Saat tiba di KL sentral, aku sedikit bingung "tumben pemberhentian bus di dalam area parkir mall?". Sampai akhirnya aku tahu bahwasanya KL sentral ini bukan mall melainkan merupakan pusat transportasi massal kuala lumpur yang terintegrasi, ada bus, ada monorel, ada kommuter, ada LRT. 

Kesan pertama setelah tau ini bukan mall "luas banget, bangunannya tinggi seperti layaknya mall, terdiri beberapa level lantai, ramai dengan hiruk pikuk manusia". KL Sentral mirip-mirip dengan stasiun Gambir Jakarta yang terdiri dari beberapa level lantai bedanya KL Sentral lebih besar, lebih luas dan lebih terintegrasi.

Suasana KL Sentral

Bagaimana dengan Indonesia? sepengetahuanku Indonesia belum punya tempat yang terpusat semacam ini. Kuala Lumpur jauh meninggalkan kota-kota besar Indonesia di bidang Transportasi untuk saat ini. Kuala Lumpur jauh lebih siap. Ini pelajaran pertama yang bisa aku simpulkan saat menginjakkan kaki di hari pertama KL. Dan mayoritas stasiun di Kuala Lumpur memang terdiri dari beberapa lantai, ada yang di bawah tanah dan ada yang berada di lantai 2 (setara dengan ketinggian jalur layang rel LRT dan Monorel). 

Oh iya untuk Bus RapidKL di Kuala Lumpur  (di Indonesia semacam transjakarta) tidak menyediakan loket pembayaran di halte, tetapi  proses pembayaran dilakukan di dalam bus, bagi yang tidak mempunyai kartu belangganan electronic (RFID), calon pengguna jasa bus harus melakukan pembayaran ke sopir bus. Di sini sopir bus merangkap sebagai kasir yang sudah dilengkapi mesin cetak tiket bus, seharusnya gajinya lebih besar nih :D 

Mencoba Moda Transportasi Monorel dan LRT
Dari KL sentral, kami memilih LRT sebagai transportasi berikutnya untuk Bukit Bintang. Untuk pembelian tiket LRT menggunakan mesin tunai otomatis, pilih rutenya dan lakukan pembayaran menggunakan uang ringgit kertas dengan cara memasukkan uang kertas ke mesin kemudian setelah itu koin yang seukuran uang pecahan 500 rupiah bertuliskan RapidKL keluar dari mesin. Koin tersebut ringan, kecil dan menggunakan teknologi RFID (perkiraanku).
Dimensi Koin RapidKL (Monorel, LRT, dan Komuter)



Eskalator Menuju Jalur Monorel

Setelah transit, kami berganti moda transportasi monorel, kereta kecil dengan dua gerbong yang membawaku ke Stasiun Bukit Bintang. Namun saat mau melangkah keluar stasiun, koin kami ditolak mesin pintu keluar. Kami sedikit kebingungan sampai akhirnya seorang warga Malaysia memanggilkan petugas wanita untuk membantu kami. Dugaanku, kami tadi salah menaiki moda transportasi atau bisa jadikami salah turun di stasiun pemberhentian. Mana yang benar? entahlah sudah malam, badan sudah capai menggendong tas ransel. Kami menyerahkan koin kami ke petugas loket, kemudian koin kami diset ulang agar bisa diterima mesin dan kami diharuskan mengeluarkan biaya tambahan sebesar 1,6 RM.

Menunggu LRT datang

Tujuan kami kali ini ke jalan alor (jalan ini merupakan pusat kuliner di bukit bintang di malam hari) untuk mengunjungi seseorang yang sudah menunggu kami di kamar hotel. Setelah 30 menit bertatap muka dengan orang Jakarta yang tidak lain merupakan teman dari temanku (yang selanjutnya akan menjadi teman perjalananan kami keesokan harinya), kami dijemput pemuda keturunan Indonesia (sudah berganti status menjadi Warga Negara Malaysia) yang merupakan sanak famili dari temanku ini menuju rumah sanak famili lainnya. Ya kami berdua menginap di rumah sanak famili yang merupakan seorang TKI, kesempatan yang sangat istimewa bagiku melihat kehidupan TKI secara langsung.

About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

0 comments:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.