Fotografi

2 Pesona Papandayan lainnya yang Tersembunyi

Matahari sudah terbenam saat itu, kamipun masuk tenda meletakan barang bawaan kami. Satu acara yang sudah diagendakan yaitu menyaksikan sunset, sudah bisa dipastikan batal, sebagai gantinya kami membuat api unggun kecil untuk sedikit menghangatkan badan. 



Selang 1 jam kemudian, makan malam pun tiba, masakan khas rumahan sudah tersedia dan sangat menggugah selera, yang dimasak oleh 2 wanita dari rombongan tour guide kami. Terasa tidak jauh beda dirumah nih, masakannya komplit dan jangan ditanya, kali ini saya makan cukup banyak mengingat tadi siang hanya beberapa suap nasi yang masuk ke dalam perut ini.

Sebelum merebahkan tubuh, saya berjalan ke tanah lapang sendirian berbekal senter untuk mencoba peruntungan memotret “milky way” galaksi bima sakti  dengan ilmu yang serba “nol” alhasil tidak dapat satu pun gambar yang menarik melainkan hanya gambar hitam pekat hahaha .... (ini menjadi PR utama bagi saya untuk mempelajari tekniknya).

Sekembalinya ke tenda, mayoritas group kami sudah terlelap didalam sleeping bag dan tenda masing-masing dengan suara dengkuran yang terdengar lemah. Udara semakin dingin, kaos tangan dan kaos kaki sudah saya sarungkan ke tempatnya masing-masing,  berusaha memasukkan badan ke sleeping bag dan mencoba ikut larut dalam dengkuran lainnya. Ternyata tidak mudah, mata ini sulit terpejam dan udara dingin terus menyapaku tanpa henti. Insomnia menyapaku ditempat yang tidak tepat. Pikiran terus berjalan tanpa bisa dikontrol dan terbangun berkali-kali. Yang saya ingat, saya tidak tidur sama sekali saat itu.

Menjelang pukul 04.00 WIB, tubuh ini belum merasakan nikmatnya tidur didalam tenda yang serasa didalam kulkas ini. Saat membuka resleting tenda, udara dingin malah semakin menghantam tubuhku satu persatu dan belum ada satupun personel yang terbangun padahal sudah dijadwalkan pukul  04.00 WIB itu adalah waktu persiapan untuk mendaki menuju ke Tegal Alun. Baru sekitar pukul 04.30 WIB mulai ada aktivitas persiapan dari rombongan.

Setelah kami siap berangkat,  ada satu personel yang sepertinya terjebak antrean panjang di toilet, sudah hampir pukul 0500  WIB dia belum muncul juga, sedangkan cakrawala sudah mulai terang. Akhirnya diputuskan untuk meninggalkan dia tetapi karena tidak memungkinkan akhirnya rencana menanti sunrise di Tegal Alun dibatalkan. Kami berjalan menuju lereng yang hanya berjarak 500 meter dari tenda kami. Kami menanti matahari terbit sambil menyeduh teh, kopi dan susu.


Akhirnya sang mentari muncul malu-malu dengan sinar yang agak terik di balik bukit yang lebih tinggi. Jangan ditanya dinginnya menanti matahari di lereng seperti ini, rasanya seakan-akan semua tumbuhan ditempat ini menyemburkan uap es secara bersamaan ke arah tubuhku. 




Selang 10 menit kemudian kami memutuskan melanjutkan pendakian ke areal hutan mati yang merupakan salah satu primadona di tempat wisata Gunung Papandayan untuk menuntaskan hasrat dokumentasi photo perjalanan kami. Tidak butuh tenaga berlebih untuk mendaki ke lahan ini, medan yang cukup landai dan matahari yang mulai “mensedekahkan kehangatannya” membuat segalanya menjadi lebih hidup dan kami lebih bersemangat untuk segera tiba di “Hutan Mati”. 


Sepanjang mata melihat hanya ada batang pohon-pohon yang berdiri tetap tegak dengan kondisi yang telah kering—mati. Ya inilah areal hutan mati, di ujung seberang yang lebih tinggi sudah banyak rombongan  yang sedang asyik berphoto ria. Ayo saatnya hunting juga hehehe  ...


Hutan mati Papandayan
Capek mendaki, saatnya terbang dengan kayu sakti :D

Puas beristirahat dan berphoto ria di areal hutan mati, kami melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun—padang luas yang ditumbuhi bunga edelweis. Butuh 1 jam perjalanan yang terus menanjak dan cukup licin untuk mencapai lokasi ini dari areal hutan mati. Jalur ini cukup merepotkan selain karena terjal, saya harus menjinjing tas selempang  yang putus talinya di kedua sisi sedangkan tangan sebelah kanan harus menenteng air mineral botol 1.5 liter.




Setiba lokasi ini kami langsung berpencar mencari angle photo yang menurut masing-masing personel dianggap bagus, tempat ini memang cantik sekali !! sepanjang mata memandang semua ditumbuhi "bunga abadi" edelweis.  sayang sekali kamera mirrorless saya harus istirahat lebih dini karena baterainya sudah habis, dan terpaksa hanya bisa mengandalkan smartphone saja.


Bunga Edelweis tumbuh subur di Tegal Alun.

Panorama view Tegal Alun yang begitu luas.

Sebelum kembali ke tenda, kami sarapan roti dan agar-agar di sela-sela bunga edelweis sambil berusaha berteduh dari sinar matahari, nikmat tiada tara kawan hehe ..acara selanjutnya yaitu belajar levitasi berjamaah hehe ..jeprett!!! ini dia hasilnya walaupun masih kurang kompak.


Ayo kita terbang ...!!
Perjalanan pulang sengaja ambil jalur yang berbeda dengan jalur pendakian ke Tegal Alun tetapi jalur ini tidak kalah seru, tidak kalah licinnya  dan tidak kalah terjalnya. Beruntungnya saat menuju Tegal Alun tidak melalui jalur ini, jika tidak, saya yakin pasti lebih melelahkan dan nafas ngos-ngosan.

Tiba di tenda, kami langsung merebahkan badan dan tertidur,  1 jam kemudian kami makan siang dan segera turun gunung. Kami turun dengan kecepatan penuh, tidak seperti saat mendaki, semua dilewati begitu cepat sampai akhirnya tiba di jalur curam yang saat mendaki kemarin membuat saya sempat kehabisan nafas. Waaaww jalurnya terasa lebih mengerikan daripada dilihat saat mendaki, harus extra hati-hati,  jika tidak alamat berguling-guling nih. 

Bahkan ada yang lebih mengerikan lagi bagi saya, ada ojek motor yang berusaha turun dengan terseok-seok, sumpah walaupun saya dibayar untuk bonceng ojek ini, saya dengan keras dan lantang akan menolaknya walaupun dibayar berapapun, melihatnya saja ngeri bukan main khawatir terperosok ke jurang, apalagi harus ikut bonceng???!!!! Ini bukan sekedar cerita dramatisir, ini nyata terjadi didepan mata saya dengan jalan yang lebarnya sekitar 1 meter dengan jalur cekung (bekas yang terjadi karena sering dilalui motor) sekitar 30cm selebihnya jalur berbatu dan tidak rata.


Jalur curam, yakin mau ikut ojek motor??
Setelah jalur ini, selebihnya jalur biasa--panjang menuju kawah papandayan dilalui dengan mulus walaupun rasa lelah saat itu mulai mendera. Tepat hari minggu siang hari saat itu, membuat jalur ini cukup ramai oleh para wisatawan lokal yang saya duga hanya ingin berwisata singkat ke kawah papandayan saja, hal ini terlihat dari mereka yang bepergian bersama suami, istri, bapak, ibu, anak kecil terlihat berpakaian alakadarnya khas wisata pantai atau non pendakian bahkan ada yang ber hak tinggi ... nekat nih orang hehehe..sambil berjalan tertatih-tatih merangkul pacarnya.

Tiba di pos 1, istirahat sejenak kemudian lapor ke POS 1, kamipun segera meluncur kembali ke Bandung dan selanjutnya diteruskan perjalanan menuju Jakarta. 

Sekian dan sampai berjumpa lagi di catatan perjalanan berikutnya. Special thanks to Hotel 88, jangan sungkan-sungkan mengajak saya jalan-jalan kembali hehe :D dan terimakasih juga untuk teman-teman dalam perjalanan, Comax, William, Mas Prie, Theo, Antho, Hendrik beserta dewa dkk.


About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

4 comments:

  1. Balasan
    1. iya memang ada ojek motor untuk naek keatas masjek

      Hapus
  2. Luar Biasa!

    Baca juga di sini ya:
    http://hotel88blog.wordpress.com/2014/11/04/hotel-88-goes-to-papandayan-mountain/

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih min :D sudah meluncur dan membacanya sampai tuntas. nice blog too

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.