Bromo

Jejak di Kawasan Wisata Bromo Part 2


Kami sampai di penginapan sekitar pukul 16.00 WIB. Kami langsung check-in dan mendapat dua kamar. Satu kamar double bed yang cukup untuk empat orang  dan kamar lainnya cuma satu ranjang untuk dua orang. Kedua-duanya memiliki kamar mandi di dalam dengan shower air panas. Tetapi jangan terlalu senang dulu karena shower air panasnya sudah dimatikan lantaran kami mendapat harga special Rp. 150.000,- perkamar saja. Padahal seharusnya berlaku tarif normal 200 ribu--efek kamar super ekonomis yang kami pesan sudah penuh.

Saatnya mandi sore ...!! brrrrrrr..airnya sedingin es, tubuh saya menggeliat seperti cacing kepanasan. Hal ini yang saya senangi saat di Bromo, saya bisa mandi air dingin sekaligus uji ilmu kekebalan--kekebalan tubuh alami hehe. Saat pertama kali dulu kesini, sedikit sekali anggota rombongan yang berani mandi. Ya saat itu lebih dingin daripada kunjungan kedua hari ini.

Shalat ashar di kamar masing-masing. Sempat hening sesaat. Sedangkan kamar sebelah yang notabene kamar rombongan cewek terdengar agak sedikit berisik. Harap maklum jika dua cewek saja berkumpul bisa ramai apalagi sekamar berempat. 

Tak terasa sudah pukul 17.54 WIB, sudah memasuki waktu maghrib. Saya berkomunikasi dengan kamar sebelah via whatsappSekedar info: sinyal paling stabil disini adalah sinyal operator merah--operator seluler no.1 di negeri ini. Jika kalian menggunakan operator selain itu, jangan terlalu berharap banyak karena sinyal kadang bagus, kadang emergency. Koneksi internet operator si biruku hanya bisa GPRS, itupun koneksinya tidak stabil. Hanya bisa berpuas berwhatsapp karena untuk browsing atau sekedar update status FB atau plurk seperti main undian--harap-harap cemas, untung-untungan.

"Siap-siap 10 menit lagi kita cari makan malam" pesan yang saya kirim ke mbak Illa di kamar sebelah. Sambil menunggu mereka, sayup-sayup terdengar suara orang dibalik pintu seperti berjalan ke arah kamar dan tidak terdengar lagi. Penasaran, saya pun mengintip. Ternyata ada seorang bule wanita menjemur CD nya alias celana dalamnya hahaha ..bentuknya seperti apa, saya bahas nanti  ya hahaha ..*sstttt kok jadi bahas yang begini ya?

Kami sudah siap berburu makan malam. Salah satu dari kami ada yang ingin menikmati bakso di dekat pertigaan jalan. Tetapi kami urungkan mengingat makan malam kali ini harus mengenyangkan karena makan malam ini adalah cadangan tenaga untuk berjibaku dengan hawa dingin sampai dini hari nanti. Akhirnya diputuskan untuk makan nasi goreng.

Terus bagaimana dengan jeepnya? kami sudah memutuskan minta tolong kepada pemilik penginapan untuk mencarikan jeep yang siap mengantarkan kami ke Pananjakan. Bapak yang punya penginapan mendatangi kami sekitar pukul 17.00 WIB. "Jeepnya 400 ribu untuk paket Pananjakan I dan kawah Bromo" ujarnya. "Ehm ya itu memang harga standar jika minta tolong memesankan ujarku dalam hati" harga tersebut saya juga dapatkan di website gunungsemeru.com dan beberapa forum backpacker

Kami melakukan tawar menawar karena kami penasaran dengan  spot pasir berbisik dan bukit teletubies
"Untuk rute kawah Bromonya di skip diganti ke pasir berbisik bisa tidak pak? karena kami sudah mendakinya tadi siang." 
"Tidak bisa mas, karena itu sudah 1 paket dan jika dari Pananjakan otomatis melewati spot kawah Bromo" ujar bapak penginapan. 
"Jika tanpa berhenti di kawah bromo langsung lanjut ke pasir berbisik berapa pak?"tanya saya kembali. 
"550rb mas" bapak Hartono berujar halus. 
"Tidak bisa kurang pak" tanya kami.
"Kalau mau kurang Pananjakan I nya ganti ke Pananjan II aja mas,  itu bisa 350 ribu plus pasir berbisik dan bukit teletubies mas" ujar bapak yang juga dikenal dengan sebutan pak Yogi ini. 
"Ok lah pak kami ambil yang 350 ribu komplit dengan pananjakan II" itulah kesapakatan kami. 
Setelah itu saya lanjut berbicara panjang lebar dengan pak hartono sedangkan teman-teman lainnya langsung masuk ke kamar masing-masing karena hawa dingin terus beranjak menuju derajat celcius yang lebih rendah.

Setelah lumayan berpuas diri dengan nasi goreng yang rasanya terlalu pas-pasan untuk ukuran nasi goreng yang dijual untuk umum, kami kembali ke kamar masing-masing. Tampaklah CD yang dijemur bule wanita tadi saat kami menghidupkan lampu depan kamar kami haha .. seperti jaring atau kain yang biasa digunakan sebagai kebaya. Udah ..udah ini cuma sekilas info saja kawan biar tidak terlalu serius bacanya haha.. 

Teman sekamar saya langsung tidur pulas diatas kasurnya sedangkan kamar sebelah juga sudah hening. Saya sendiri malah asyik browsing informasi mumpung koneksi GPRS si biru lebih lancar daripada tadi sore. Setelah googling dan baca dari forum backpacker ternyata view Pananjakan II tidak sebagus view yang akan di dapat di Pananjakan I. 

Mulailah aku gamang, "Kira-kira bisa dibatalkan tidak booking jeep tadi ya?" ujar saya bicara sendiri dalam hati. Terpaksa saya telepon mbak Illa yang sudah tidur pulas. Kami rundingkan panjang lebar  serta plus minusnya didepan kamar yang langsung disapa hawa dingin khas Bromo. "Oke Ron saya juga setuju klo ternyata seperti itu, saya mau masuk kamar dulu dingin nih" kurang lebih itu percakapan terakhir dengan mbak iLLa di malam itu.

Saya mencari penjaga penginapan dan mengutarakan niat jika kita ingin mengubah paket perjalan besok pukul 03.30 WIB dini hari. Panjang lebar akhirnya kami diperbolehkan mengubah jadwal, dan penjaga penginapan yang tidak lain ternyata adiknya pak Hartono ini minta pembayaran +200rb nya. Saya kembali ke kamar, sms mbak Illa untuk mengambil uang yang sudah kami kumpulkan, tetapi tidak ada jawaban. Sepertinya mbak Illa sudah terlelap. Saya kembali bertemu ke penjaga penginapan meminta dispensasi untuk melunasi pembayaran besok dini hari. 

Saya pun merasa sedikit lega sambil berharap semoga besok cuacanya mendukung. Langsung ke kamar mandi  dengan air yang membuat sekujur tubuh meresponnya dengan bergetar seperti  HP. Setelah shalat isya' sendirian buru-buru langsung loncat ke atas ranjang dan menutupi dengan selimut tebal yang sudah disediakan penginapan.


#HariKe2 .. 

Sekitar pukul 03.15 WIB kami sudah bangun, cuci muka, persiapkan roti bekal yang kami bawa dari surabaya, air minum, permen, baju berlapis-lapis, syal, kaos kaki, sarung tangan, slayer semua sudah siap. Ya tidak seorangpun dari kami berani mandi dan hal itu memang lumrah bagi wisatawan yang berkunjung ke Bromo.

Di luar penginapan, deru mobil jeep 4WD sudah meraung-raung dan sudah banyak wisatawan domestik dan mancanegara sedang bersiap menunggu jemputan jeep pesanan mereka. Satu persatu jeep membawa rombongan mereka ke pananjakan. Kami bayar kekurangan uang pembayaran 200 ribu  ke penjaga penginapan tetapi jeep yang kami pesan belum datang juga. Sekitar pukul 03.40 WIB jeep kami akhirnya tiba di penginapan, kami berenam segera naik dan berangkat menuju Pananjakan.

Melewati padang pasir, jalanan yang berkelok-kelok dan menanjak, semuanya gelap gulita hanya diterangi lampu dari jeep yang ditumpangi para wisatawan. Sepanjang perjalanan tampak puluhan jeep dan sepeda motor berlomba memacu kendaraannya.

Entah pukul berapa, kami sudah sampai di tempat parkir jeep, disana sudah ada puluhan dan bisa jadi ratusan jeep sudah terparkir, hal ini membuat kami harus berjalan eksta lebih jauh. Puluhan tukang ojek menawarkan jasanya untuk mengantarkan sampai ke tangga pananjakan. Dinginnya jangan ditanyakan. Pananjakan memiliki tinggi sekitar  2.770 meter di atas permukaan air laut jauh lebih tinggi dari kawah bromo dan perbukitan lain disini.

Deru nafas kita beradu dengan jalan menanjak dan dinginnya udara pagi itu. Walaupun jalannya beraspal tetapi tetap saja namanya jalan menanjak itu menguras tenaga. Beberapa anggota kami pun sudah menampakkan wajah pucat sambil bertanya "Masih jauh tidak sih ke puncaknya?", "Dekat bentar lagi sudah sampai, itu tower operator selulernya sudah kelihatan" saya membalasnya dengan semangat. Akhirnya setelah bersusah payah , kami sampai di tangga untuk menuju Pananjakan. Disini kami berpisah untuh sementara, yang mau shalat shubuh menuju mushalla dan yang lagi "libur" langsung menuju ke spot untuk mengamati matahari terbit.

Ternyata untuk shalat subuh di mushalla ini harus antri seperti antri sembako. Apalagi karena cuaca dingin, wudhu saya batal setelah buang angin di perjalananan mendaki, padahal toilet baru ada di puncak. Ok kami shalat di samping mushalla aja di alam bebas dengan tayammum. Kami pun shalat di kegelapan beralaskan sajadah dialam bebas.



KENANGAN: Disinilah kami shalat shubuh tepat disamping mushalla kecil pananjakan. 

Shalat selesai, langsung saja kita dengan semangatnya beranjak ke spot untuk melihat matahari terbit. Diluar dugaan kali ini jauh lebih ramai, ratusan bahkan bisa jadi ribuan  orang  dengan asumsi 1 jeep 6 orang dan berdasarkan informasi dari pak Twin ada 4 paguyuban jeep di kawasan Bromo ini. Paguyuban Bromo Jeep Club tempat jeep kami bernaung saja sudah 210 anggota.

Sedikit kebingungan karena sudah tidak dapat tempat yang nyaman untuk mengintip matahari terbit,  aku pun berpisah dengan rombonganku. Aku keluarkan tripod kesayanganku, tidak peduli walaupun cuma bermodal kamera pocket tetapi menggunakan tripod. Aku pasang kameraku di tripod kemudian aku jadikan tripod itu sebagai "galah" alias perpanjangan tangan. Aku junjung tinggi sambil menantikan sunrise. 

Beberapa menit kemudian tepat pukul 05.31 WIB versi kameraku, matahari akhirnya mengintip dengan menawannya dibawah awan, Inilah kepuasan yang dicari ribuan orang di pananjakan I ini. 
Sunrise Bromo
RAMAI: Ribuan orang memadati Pananjakan I menanti matahai terbit.


Sunrise Bromo
MENAWAN: Gradasi warna yang dihasilkan matahari yang mengintip sangat mempesonakan mata.


Sunrise Bromo
SUNRISE: Pukul 05.43 WIB matahari sudah menampakkan dirinya untuk menyinari kawasan TNBTS.


About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

8 comments:

  1. @niko : terimakasih kunjungan bro :D .. Haseeek juga

    BalasHapus
  2. Keren abis foto-foto sunrise-nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih rot, cuacanya mendukung dan untung bawa tripod :D

      Hapus
  3. Nanya donk bro, itu yang sewa jeep emang harus wajib ya?? gak ada angkutan lain gitu ke kawah bromonya?? yg lebih murah..hehe...

    Klo emng harus pakai jeep, itu udah pakai sopir gak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita ke kawah bromo FULL jalan kaki dari pintu tiket masuk mas. Sangat melelahkan. Silahkan baca tulisan yang part #1. Tetapi jika yg dimasukkan ke Pananjakan I, berdasrkan refrensi mobil pribadi dilarang naek kesana. Jadi Pilihannya naek jeep atau ojek motor. Sudah Plus Supir dan BBMnya itu mas :)

      Hapus
  4. Balasan
    1. di cemoro lawang, di Yog Homestay, dekat pintu loket masuk

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.