Bromo

Jejak di Kawasan Wisata Bromo Part 1

INDAH: View pemandangan diambil dari atas kawah bromo.


#Prolog
ada prolognya juga? iya biar agak panjang tulisannya hehe.. ini bermula dari percakapan seorang perempuan, Aku memanggilnya mbak Illa. Dia mengajak untuk berwisata ke Bromo saat liburan. Kami berkomunikasi via whatsapp. Jika dirunut kejadiannya agak lucu, karena aku sendiri sebenarnya kurang berminat untuk bergabung dengan alasan klasik. Apa alasannya ? biar dibahas nanti saja.

Nah, mengapa akhirnya aku memutuskan untuk bergabung? alasannya agak lucu, yang pertama karena sudah terlanjur banyak "bacot" alias banyak omong dengan mbak iLLa haha... yang kedua karena dalam lubuk hati yang paling dalam, memang menargetkan untuk berkunjung ke Bromo untuk kedua kalinya. Dulu sekitar tahun 2005-2006 pernah ke gunung Bromo. Sayang sekali, cuaca kurang bagus, apalagi saat itu aku hanya membawa kamera pocket yang masih menggunakan film. Untuk motret saja harus memikirkan sisa roll filmnya. Sejak itu aku menargetkan akan kembali ke Bromo. Yang ketiga karena hobiku jalan-jalan dan photography, kalau ada ajakan begini sering ngiler dan khilaf.

Setelah diskusi panjang lebar, aku membuat rencana perjalanan dan biaya yang harus dikeluarkan. Tentunya dengan konsep backpacker serta konsep camping menggunakan tenda sewaan. Tetapi dengan banyak pertimbangan akhirnya rencana tersebut diubah lagi dengan alternatif cari penginapan. Banyak hal yang aku pertimbangkan mengapa harus penginapan, aku bahas nanti saja ditulisan selanjutnya. Jangan lupa diingatkan jika lupa ya, masak prolognya panjang bener.


#HariPertama
Kami memutuskan untuk berangkat Kamis (09/05) pukul 04.30 WIB dari Terminal Bungurasih Surabaya. Aku beserta dua orang cewek yang berasal dari Lamongan,  mau tidak mau harus menginap di Surabaya. Dua orang cewek, mbak Nana dan Onie--begitulah aku memanggilnya, menginap di kost-an mbak Illa. Sedangkan aku menginap di kost-an Arief. Aku belum pernah ketemu sebelumnya, dia juniornya mbak iLLa di kantor perusahaan yang sama.

Ada rasa sedikit kecewa saat Aulia, pemuda yang aku tahu berasal dari Padang itu batal untuk ikut bergabung. Waduh biaya tripnya bisa bengkak nih, padahal uang pas-pasanPukul 03.15 WIB bangun tidur, mandi, shalat subuh kemudian langsung menuju kost mbak iLLa. Kami mengendarai motor ke terminal bus Bungurasih. Onie membonceng mbak Nana, Arief membonceng Aulia, sedangkan aku membonceng mbak Illa.


Sekitar pukul 05.30 WIB kami tiba di terminal. Molor satu jam dari perkiraan. Entah bagaimana ceritanya, mbak Illa mengabarkan kepada kami bahwa mbak Rizma memutuskan untuk bergabung dalam trip ini. Kami menuju parkiran untuk memarkir sepeda motor kami sambil menunggu kedatangan mbak Rizma. Sekitar pukul 06.00 WIB, akhirnya mbak Rizma datang. Bus yang kami tunggu juga sudah berada di posisi parkir keberangkatan bus ekonomi jurusan Probolinggo. Langsung saja kami naik bus tersebut, selang 15 menit kemudian bus mulai bergerak.

Pukul 08.25 WIB kami sudah tiba di terminal Banyuangga Probolinggo. Saat turun dari bus, kami langsung disambut oleh kernet mobil elf/bison yang akan tujuan Cemoro Lawang. Sayangnya ternyata calon penumpang baru kami saja, cuma 6 orang padahal angkutan ini baru bersedia berangkat jika sudah muatan sebanyak  15 orang penumpang. 

Aku dulu pernah ke Bromo tetapi hanya sebagai follower--asal terima jadi. Berbeda dengan saat ini, mau tidak mau aku harus menjadi tourleader bagi kelima temanku. Aku pun sempat bimbang, apakah benar jika mau ke Bromo cari bison/elf disini? jika benar bukannya seharusnya disini ramai calon penumpang?. Aku mondar-mandir kesana kemari, bertanya ke tukang becak dan penduduk sekitar. 

Sepuluh menit kemudian, belum ada juga calon penumpang lainnya. Kami dihampiri dan ditawari untuk membayar 300rb agar langsung berangkat. Kami merasa keberatan karena tarif normal per orang seharusnya cuma 25 ribu saja. "Kami menunggu penumpang lainnya aja pak," Aku membalasnya dengan sedikit bimbang. Beberapa menit kemudian, masih belum tampak juga calon penumpang lainnya. 

Ternyata di areal angkutan menuju Cemoro Lawang ini adalah kumpulan warga yang solid.  Mereka bergantian melobi kami biar segera berangkat. Termasuk tukang becak yang aku tanyai tadi, ternyata dia bagian dari tim mereka. Padahal tukang becak tersebut mengerti kegalauan kami hihihi--salah tempat wawancara dong. Supir bison tadi akhirnya menawarkan "Udah 250 ribu langsung berangkat bagaimana?".  "Kami tunggu pak saja pak" balas kami dengan singkat, kami sepakat menunggu sampai pukul 09.00 WIB.

Pukul 08.45 WIB tukang becak tadi menghampiriku. "Supir tadi minta berapa" tanyanya. "250 ribu" jawabku. "kalo minta segitu harusnya kamu lawan, terima aja penawarannya. Kalau nunggu penuh lama dan klo dihitung full 15 x 25 =375 ribu."

Bener juga ya dengan harga tersebut sudah termasuk murah? tetapi tunggulah sampai pukul 09.00 WIB biar lebih hemat, toh kami tidak buru-buru. Selang 10 menit kemudian pukul 08.55 WIB datanglah turis seorang diri, melakukan negosiasi dengan komplotan tim elf. Kemudian mereka menghampiri kami, "Begini aja kalian bayar 40 ribu per orang, turis ini aku minta 50 ribu tapi jika kalian bisa ngomong bahasa Inggris jangan bilang-bilang kalo kalian cuma bayar 40rb."  Supir menyampaikan dalam bahasa campuran antara bahasa Jawa dan Madura.

Seakan-akan dihipnotis, kami langsung mengiyakan saja. Baru setelah duduk di dalam elf, kami baru sadar "Ternyata solusi tadi sama aja bohong hahaha ..". Angkutan umum ini siap membawa kami ke Cemoro Lawang yang merupakan desa terdekat dengan kawasan wisata Bromo. Dengan lihainya sopir ini membawa kami menyusuri jalanan aspal khas pegunungan. Kanan kiri sepanjang perjalanan dihiasi hamparan pemandangan yang sangat menakjubkan. Belokan tajam berhasil dilewati dengan cekatan dan mulus. Kira-kira angkutan ini butuh sekitar 1 jam 20 menit untuk mengantarkan kami ke desa pemberhentian terakhir.

Sepanjang perjalanan, sesekali kami dibuat menarik nafas dalam-dalam. Sopir mobil yang kami tumpangi sering menunjukkan kelihaiannya. Terlihat sekali, dia sudah mempunyai jam terbang yang tinggi di medan seperti ini, sudah banyak mobil pelancong lainnya yang disalip padahal jalan agak sempit. 

Sekitar pukul 10.20 WIB kami sudah tiba di desa Cemoro Lawang atau ada yang menyebutnya Cemara Lawang. Langsung saja kami mencari penginapan berdasarkan referensi dari forum backpacker. Sayangnya kamar yang kami pesan sudah penuh. Oleh owner penginapan, kami ditawari kamar yang lebih mahal tetapi dengan kamar mandi didalam. "Okelah, lanjut diambil daripada masih muter-muter cari penginapan di hari liburan seperti ini," ujarku kepada teman-teman.

Check-in sebenarnya baru bisa dilakukan pukul 13.00 WIB. Tetapi kami meminta izin untuk menempati salah satu kamar kosong untuk menitipkan tas yang kita panggul selama perjalanan ini. Lumayan mengurangi beban yang harus kami panggul, karena kami telah berniat untuk langsung mendaki. 

Lanjut ..!! kami sepakat berjalan kaki untuk mencari sarapan sekaligus makan siang. Makanan yang akan menjadi bahan bakar kami sebelum mendaki. Akhirnya kami memilih warung di dekat pintu masuk kawasan wisata Bromo. Harga makanan saat itu rata-rata sebesar Rp. 9000,-. Ada nasi campur, nasi soto ayam, nasi rawon dan lalapan ayam. Sedikit di luar ekspetasi,  nasi campur pesananku porsinya sangat sedikit. Lauknya pun hanya sepotong ayam sebesar ibu jari. Porsi seperti itu kurang nendang diperut.

Pengisian cadangan tenaga untuk mendaki selesai. Kami langsung menuju loket karcis dan membeli tiket masuk seharga Rp. 6.500,- per orang. Tiket sudah digenggaman, dari kejauhan sudah nampak gunung Batok yang berdiri dengan angkuhnya bersanding dengan kawah gunung Bromo. Beberapa meter kemudian beberapa tukang ojek menghampiri kami menawarkan jasa antar jemput ke kawah Bromo. Kami menolaknya karena dari awal sudah sepakat hari pertama sepenuhnya jalan kaki. 

Jangan salah, tolakan halus kami tidak membuat mereka surut menawarkan jasanya. Mereka terus mengiringi perjalananan kami hingga beberapa puluh meter. "Jauh loh mas, pasti capek udah 20 ribu aja PP gimana?". Tawaran yang menggiurkan tetapi kami sudah bertekad bulat "Hidup jalan kakiii ....!!".


ASPAL TERAKHIR: Kami berpose dengan latar belakang Gunung Batok dan Kawah Gunung Bromo

Lumayan 1 km pertama berhasil dilalui dengan rasa senang lantaran terbius oleh indahnya pemandangan kawasan Bromo ini. Kami terus berjalan menuju kawah Bbromo ditemani angin yang membawa pasir-pasir beterbangan menyambut kedatangan kami.


JALAN KAKI: Butuh setidaknya berjalan sekitar 2-3 km dari pintu masuk ke kawah bromo.

Sinar matahari saat itu sebenarnya cukup terik tetapi hawa dingin membuat seakan-akan terik matahari tidak akan membakar kulit kami. Selama perjalanan, rata-rata pengunjung lainnya memilih mengendarai motor pribadi, ojek motor dan jeep. Hanya beberapa saja yang memilih jalan kaki seperti kami. Untuk mengobati lelah yang mulai menghampiri, kami berpose di beberapa spot yang aku anggap sangat tepat untuk sesi pemotretan--bergaya layaknya photographer dan mereka pun jadi model percobaanku hehe.


KOMPAK: Mayoritas kami berkenalan di dunia maya, bertemu dan berkawan.

KOMPAK: Mayoritas kami bertemu di dunia maya, bertemu dan berkawan.
Tak terasa akhirnya sampai juga di dekat area  parkiran jeep sekitar pura di kawah Bromo ini, tenaga kami sudah cukup terkuras. Untuk ke kawah Bromo bisa menggunakan jasa ojek kuda. Lagi-lagi kami masih bersikeras untuk jalan kaki, dengan tujuan untuk berhemat biaya. Untuk menyewa jasa kuda ini setidaknya anda akan merogoh uang sekitar 30 ribu sekali jalan, tergantung pintar-pintarnya kalian melakukan seni tawar menawar. Sedikit tips untuk mendaki ke kawah bromo jangan lupa bawa slayer atau masker penutup hidung karena debunya beterbangan.


Penjual Makanan Kawah Bromo
RAMAI: Semua kendaraan baik itu sepeda motor dan jeep harus parkir di sekitar pura. Disekita tempat ini juga
banyak penjual minuman dan makanan.
Ojek kuda Kawah Bromo
HEMAT TENAGA: Ojek kuda akan mengantarkan kalian sampai kaki tangga kawah.
Tidak mudah memang mendaki tangga kawah Bromo ini, butuh kaki yang lebih kuat dan nafas yang panjang. Beberapa kali rombongan kecil kami harus berhenti untuk mengambil nafas, beberapa anggota terlihat tertatih-tatih dengan muka yang tidak enak dilihat. Aku terus berusaha menyemangati mereka "eman kalo sudah capek-capek ke Bromo tetapi  gak sampai ke kawahnya lho". 

Tangga Kawah Bromo
OBAT CAPEK : Jika ada temanmu capek, photolah--mukanya akan berubah segar seketika.

Area Kawah Bromo
OBAT CAPEK II : Sekali lagi kalau capek photo bersamalah :D. Photo diatas kawah bromo.

Kawah Bromo
AKTIF: mbk iLLa berpose didepan kawah bromo yang masih aktif sampai saat ini.

Kawah Bromo ini merupakan kawah yang masih aktif. Kebetulan saat kami berkunjung bau belerang yang dikeluarkan tidak terlalu menyengat hidung. Sebuah keberuntungan bagi kami. Kami bisa berpose bergantian di kawah Bromo ini sebagai bukti telah berhasil menjejakkan kaki di bibir kawah Bromo. Hal ini sangat jauh berbeda saat aku pertama kali dulu ke kawah Bromo ini, bau belerangnya sangat mengganggu

Area Kawah Bromo
BIBIR KAWAH: Tampak banyak pengunjung yang memadati kawah bromo. 

Berhati-hatilah jika mendaki kawah gunung Bromo, karena pagar tembok bibir kawah hanya dibeberpa sisi saja sedangkan di sisi lainnya hanya dipagari tali tambang. View pemandangan dilihat  dari kawah bromo ini sangatlah indah. 

View dari Kawah Bromo
KECIL : Tampak orang-orang yang terlihat kecil dari kejauhan dengan backgound pura.

Setelah puas mendokumentasikan pemandangan dari atas kawah Bromo dan berpose ria sekitar 15 menit, kami memutuskan untuk turun. Ternyata untuk turun kawah Bromo bisa dibilang sama sulitnya dengan mendaki. Tangga sedikit licin oleh pasir-pasir Bromo dan kaki dibuat lebih ekstra menahan beban tubuh kami. Sampai di kawasan parkiran kami sepakat langsung menuju toilet. Untuk menggunakan toilet umum ini kita cukup mengeluarkan uang Rp. 2.000,- saja.

Kami memutuskan istirahat sekitar 30 menit sekaligus shalat dzuhur di alam terbuka. Kita shalat bergantian dengan alasan tidak ingin menjadi pusat perhatian. Selain itu karena kontur tanah di samping gubuk yang tidak rata dengan beralaskan rumput dan jaket. Semuanya serba seadanya, yang cewek shalat tanpa mukena tapi dengan sarung dan sarung tangan. 


Kuda Bromo
MENANJAK: Untuk menyewa jasa kuda ini, joki kuda akan berjalan kaki menuntun kudanya.

Sesudah dari toilet dan shalat, istirahat masih berlanjut. Saatnya ngeteh dan ngopi di penjual minuman sekitar parkiran motor. Isi bahan bakar dengan cemilan yang kami bawa, sebelum melanjutkan perjalanan ke spot wisata berikutnya. Ya masih dengan konsep jalan kaki. 

Perjalanan kami berlanjut. Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di area kikisan air hujan yang membentuk bekas aliran air yang cukup dalam. Kami putuskan untuk turun dan mengambil photo bersama-sama di daerah aliran air hujan ini.

TERKIKIS: Daerah yang kata penduduk merupakan bekas aliran air hujan dari kejauhan.


Aliran Air Hujan Bromo
BUKAN TEBING ASLI: Tebing pasir yang dihasilkan aliran hujan memberi kesan garang dan ekslusif :D.
Keindahan kawasan wisata Bromo ini sangat lengkap, semua sudut di mataku merupakan obyek yang indah untuk diabadikan melalui kamera pocket yang aku bawa ini.

siluet padang pasir bromo


Tiba-tiba saja kabut menyerang kawasan wisata Bromo. Semuanya tertutupi kabut tebal dalam hitungan detik. Bahkan ada pengendara motor yang bertanya arah pintu keluar kawasan dari bromo kepada kami, dengan yakinnya aku menjawab kearah sana sambil menunjukkan arah jalan yang tak terlihat sedikitpun. Padahal aku pun sebenarnya setengah tidak yakin. Fenomena kabut tebal ini tidak aku sia-siakan untuk memanfaatkan moment ini untuk mengajak lainnya untuk berphoto.

Kabut Bromo

Cuaca kali ini tidak bersahabat, kami urungkan rencana kami untuk mengunjungi area pasir berbisik karena kabut terlalu tebal. Kami  khawatir tersesat dan tak tahu arah jalan pulang seperti lagu yang didendangkan oleh dua orang penyanyi solo Indonesia hehe... Langkah kami semakin gontai, dingin dan rasa lelah telah menyapa kami dengan hebatnya. Sangat jelas, rasa lelah tampak di raut muka rombongan kami, apalagi di muka dua cewek anggota rombongan kami.

Berkali-kali salah satu anggota kami bersikeras ingin naik ojek motor ataupun kuda. Dan berkali-kali pula kami menyemangatinya walaupun kami juga mempersilahkan kalau sudah melambaikan tangan ke kamera (seperti ajang  uji nyali dunia lain di tv swasta hehe..). Tetapi entah sungkan atau omongan kami yang selalu menyemangatinya berhasil atau karena selalu setia menunggu setiap kali mereka berdua tertinggal dibelakang beberapa langkah daripada lainnya. Akhirnya semua personel sanggup kembali ke atas  (areal pintu masuk) tanpa ojek sama sekali. Dan langsung menuju penginapan untuk check-in.

Kabut Tebal Bromo
POHON DAN KABUT: Selama perjalanan balik ke atas, kami berjuang melawan keletihan dan dingin.

Pintu Masuk Bromo
AKHIRNYA: Senyum kemenangan setelah berhasil 100% jalan kaki mendaki kawah gunung bromo.

About Zamsjourney

Seorang blogger yang mempunyai hobi travelling dan photography sekaligus admin di HALOnetizen.com. Beberapa pengalaman saat travelling dan pengalaman lainnya bisa kalian baca di blog ini. Salam kenal dan semoga bermanfaat :)

7 comments:

  1. Hahahaha...
    itu yg kelelahan terlihat jelas di mukanya siapa? :)))
    Aq sama Arip msh terheran2 loh sm hasil gambarnya, secara kamera pocket tp hasil dslr wuihh..
    gudjob, hari kedua potonya yg lebih keren yak hihii..

    BalasHapus
  2. iLLa: hehehe dilarang sebut merk tetapi jujur saat naik ke kawah khawatir aja lihat ekspresi mukanya, khwatir pingsan terbayang siapa yang bakal angkut hehehe .. kebetulan pencahayaan saat itu pas ,,jika pencahayaan kurang/gk pas, jelek hasil kamera pocketku ini mbak :)

    BalasHapus
  3. suiip jeh....

    BalasHapus
  4. begini yah tulisan ala radar :D *uhuk
    fotonya bagus-bagus ak :D
    hehehe
    puanjang karena banyak fotonya :D
    mending di buat gallery foto (slide)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha aku gk pernah nulis di radar za kecuali iklan 1 kali :D .. Saran yang sangat bagus. Makasih banyak atas saran-sarannya master (y)

      Hapus
  5. Keindahan gunung bromo itu sendiri memang sudah tidak diragukan lagi oleh para wisatawan lokal maupun asing, selain Keunikan dan pesona landscape yang ditawarkannya memang memberikan citarasa tersendiri yang akan membuat para pengunjung terkesan saat mengunjunginya.
    Great share bro :-)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.